Macam, nilai & penggunaan capasitor
Pada artikel sebelumnya
telah dijelaskan bahwa resistor dan capasitor merupakan komponen pasif
elektronika. Didalam artikel ini akan dibahas mengenai kapasitor, dimana
pokok bahasan akan dititik beratkan pada pengetahuan tentang jenis
kapasitor, cara mencari nilai dari kapasitor, dan penggunaan kapasitor
berdasarkan jenisnya.
1. Macam dan Penggunaan Kapasitor
Kapasitor merupakan komponen pasif
elektronika yang sering dipakai didalam merancang suatu sistem yang
berfungsi untuk mengeblok arus DC, Filter, dan penyimpan energi listrik.
Didalamnya 2 buah pelat elektroda yang saling berhadapan dan dipisahkan
oleh sebuah insulator. Sedangkan bahan yang digunakan sebagai insulator dinamakan
dielektrik. Ketika kapasitor diberikan tegangan DC maka energi listrik
disimpan pada tiap elektrodanya. Selama kapasitor melakukan pengisian,
arus mengalir. Aliran arus tersebut akan berhenti bila kapasitor telah
penuh. Yang membedakan tiap – tiap kapasitor adalah dielektriknya.
Berikut ini adalah jenis–jenis kapasitor yang banyak dijual dipasaran.

Elektroda dari kapasitor ini terbuat dari alumunium yang menggunakan membran oksidasi yang tipis. Karakteristik utama dari
Electrolytic Capacitor adalah
perbedaan polaritas pada kedua kakinya. Dari karakteristik tersebut
kita harus berhati – hati di dalam pemasangannya pada rangkaian, jangan
sampai terbalik. Bila polaritasnya terbalik maka akan menjadi rusak
bahkan “
MELEDAK”. Biasanya jenis kapasitor ini digunakan pada rangkaian
power supply,
low pass filter ,
rangkaian pewaktu. Kapasitor ini tidak bisa digunakan pada rangkaian
frekuensi tinggi. Biasanya tegangan kerja dari kapasitor dihitung dengan
cara mengalikan tegangan catu daya dengan 2. Misalnya kapasitor akan
diberikan catu daya dengan tegangan 5 Volt, berarti kapasitor yang
dipilih harus memiliki tegangan kerja minimum 2 x 5 = 10 Volt.

Merupakan jenis
electrolytic capacitor yang elektrodanya terbuat dari material
tantalum.
Komponen ini memiliki polaritas, cara membedakannya dengan mencari
tanda + yang ada pada tubuh kapasitor, tanda ini menyatakan bahwa pin
dibawahnya memiliki polaritas positif. Diharapkan berhati – hati di
dalam pemasangan komponen karena tidak boleh terbalik. Karakteristik
temperatur dan frekuensi lebih bagus daripada
electrolytic capacitor
yang terbuat dari bahan alumunium dan kebanyakan digunakan untuk sistem
yang menggunakan sinyal analog. Contoh aplikasi yang menggunakan
kapasitor jenis ini adalah
noise limiter,
coupling capacitor dan rangkaian filter.

Kapasitor menggunakan bahan
titanium acid barium untuk
dielektriknya. Karena tidak dikonstruksi seperti koil maka komponen ini
dapat digunakan pada rangkaian frekuensi tinggi. Biasanya digunakan
untuk melewatkan sinyal frekuensi tinggi menuju ke
ground.
Kapasitor ini tidak baik digunakan untuk rangkaian analog, karena dapat
mengubah bentuk sinyal. Jenis ini tidak mempunyai polaritas dan hanya
tersedia dengan nilai kapasitor yang sangat kecil dibandingkan dengan
kedua kapasitor diatas.
- Multilayer Ceramic Capacitor
Bahan material untuk kapasitor ini sama
dengan jenis kapasitor keramik, bedanya terdapat pada jumlah lapisan
yang menyusun dielektriknya. Pada jenis ini dielektriknya disusun dengan
banyak lapisan atau biasanya disebut dengan layer dengan ketebalan 10 s/d 20 μm dan pelat elektrodanya dibuat dari logam yang murni.
Selain itu ukurannya kecil dan memiliki
karakteristik suhu yang lebih bagus daripada kapasitor keramik. Biasanya
jenis ini baik digunakan untuk aplikasi atau melewatkan frekuensi
tinggi menuju tanah.

Dielektrik dari kapasitor ini terbuat dari
polyester film.
Mempunyai karakteristik suhu yang lebih bagus dari semua jenis
kapasitor di atas. Dapat digunakan untuk frekuensi tinggi. Biasanya
jenis ini digunakan untuk rangkaian yang menggunakan frekuensi tinggi,
dan rangkaian analog. Kapasitor ini biasanya disebut mylar dan mempunyai
toleransi sebesar ±5% sampai ±10%.

Kapasitor ini memiliki nilai toleransi yang lebih tinggi dari
polyester film capacitor.
Pada umumnya nilai kapasitansi dari komponen ini tidak akan berubah
apabila dirancang disuatu sistem dimana frekuensi yang melaluinya lebih
kecil atau sama dengan 100KHz. Pada gambar disamping ditunjukkan
kapasitor
polypropylene dengan toleransi ±1%.

Jenis
ini menggunakan mika sebagai bahan dielektriknya. Kapasitor mika
mempunyai tingkat kestabilan yang bagus, karena temperature koefisiennya
rendah. Karena frekuensi karakteristiknya sangat bagus, biasanya
kapasitor ini digunakan untuk rangkaian resonansi, filter untuk
frekuensi tinggi dan rangkaian yang menggunakan tegangan tinggi
misalnya: radio pemancar yang menggunakan tabung transistor. Kapasitor
mika tidak mempunyai nilai kapasitansi yang tinggi, dan harganya relatif
mahal.
- Polystyrene Film Capacitor

Dielektrik dari kapasitor ini menggunakan
polystyrene film .
Tipe ini tidak bisa digunakan untuk aplikasi yang menggunakan frekuensi
tinggi, karena konstruksinya yang sama seperti kapasitor elektrolit
yaitu seperti koil. Kapasitor ini baik untuk aplikasi pewaktu dan filter
yang menggunakan frekuensi beberapa ratus KHz. Komponen ini mempunyai 2
warna untuk elektrodanya, yaitu: merah dan abu – abu. Untuk yang merah
elektrodanya terbuat dari tembaga sedangkan warna abu – abu terbuat dari
kertas alumunium.
- Electric Double Capacitor (Super Capacitor)

Jenis
kapasitor ini bahan dielektriknya sama dengan kapasitor elektrolit.
Tetapi bedanya adalah ukuran kapasitornya lebih besar dibandingkan
kapasitor elektrolit yang telah dijelaskan di atas. Biasanya mempunyai
satuan F. Gambar bentuk fisiknya dapat dilihat di samping, pada gambar
tersebut kapasitornya memiliki ukuran 0.47F. Kapasitor ini biasanya
digunakan untuk rangkaian power supply.

Kapasitor
jenis ini menggunakan keramik atau plastik sebagai bahan dielektriknya.
Nilai dari kapasitor dapat diubah – ubah dengan cara memutar sekrup
yang berada diatasnya. Didalam pemutaran diharapkan menggunakan obeng
yang khusus, agar tidak menimbulkan efek kapasitansi antara obeng dengan
tangan.

Kapasitor
ini dinegara Jepang disebut sebagai “Varicons”, biasanya banyak sekali
digunakan sebagai pemilih gelombang pada radio. Jenis dielektriknya
menggunakan udara. Nilai kapasitansinya dapat dirubah dengan cara
memutar gagang yang terdapat pada badan kapasitor kekanan atau kekiri.
2. Nilai Kapasitor
Untuk mencari nilai dari kapasitor
biasanya dilakukan dengan melihat angka/kode yang tertera pada badan
kapasitor tersebut. Untuk kapasitor jenis elektrolit memang mudah,
karena nilai kapasitansinya telah tertera dengan jelas pada tubuhnya.
Sedangkan untuk kapasitor keramik dan beberapa jenis yang lain nilainya
dikodekan. Biasanya kode tersebut terdiri dari 4 digit, dimana 3 digit
pertama merupakan angka dan digit terakhir berupa huruf yang menyatakan
toleransinya. Untuk 3 digit pertama angka yang terakhir berfungsi untuk
menentukan 10n, nilai n dapat dilihat pada tabel dibawah.
Misalnya suatu kapasitor pada
badannya tertulis kode 474J, berarti nilai kapasitansinya adalah 47 +
104 = 470.000 pF = 0.47μF sedangkan toleransinya 5%. Yang harus diingat
didalam mencari nilai kapasitor adalah satuannya dalam pF (Pico Farad).
Macam & penggunaan resistor
Biasanya di dalam
mendesain suatu rangkaian elektronika kita sering menganggap remeh
tentang jenis resistor yang akan digunakan, sehingga sistem yang
dirancang kadang – kadang berjalan baik tetapi umurnya pendek atau
kemampuan sistem tersebut menjadi berkurang seiring dengan perubahan
suhu disekitarnya. Dari sini dapat disimpulkan bahwa memilih jenis
resistor sangatlah penting. Oleh karena itu di dalam artikel ini salah
satu bahasannya adalah pemilihan jenis resistor yang tepat untuk sistem
elektronika. Selain itu juga akan dijelaskan mengenai teknologi, dan
cara mencari nilai dari resistor.
- Macam–macam resistor dan penggunaannya
Resistor komponen pasif elektronika yang
berfungsi untuk membatasi arus listrik yang mengalir. Berdasarkan
kelasnya resistor dibagi menjadi 2 yaitu : Fixed Resistor dan Variable
Resistor. Dan umumnya terbuat dari carbon film atau metal film, tetapi
tidak menutup kemungkinan untuk dibuat dari material yang lain.
1. Fixed Resistor

Merupakan
resistor yang mempunyai nilai tetap. Ciri fisik dari resistor ini
adalah bahan pembuat resisttor terdapat ditengah–tengah dan pada
pinggirnya terdapat 2 Conducting Metal, bisanya kemasan seperti ini
disebut dengan Axial. Ukuran fisik fixed resistor bermacam – macam,
tergantung pada daya resistor yang dimilikinya. Misalnya fixed resistor
dengan daya 5 watt pasti mempunyai bentuk fisik yang jauh lebih besar
dibandingkan dengan fixed resistor yang mempunyai daya ¼ watt. Pada
gambar 1 disamping ditunjukkan beberapa contoh bentuk fisik dari fixed
resistor. Dari yang paling atas dapat dilihat bentuk fisik dari resistor
dengan daya 1/8, ¼, 1, 2, dan 5 watt.

Seiring
dengan perkembangan teknologi saat ini, diciptakanlah sebuah teknologi
baru yang disebut dengan SMT (Surface Mount Technology). Dengan
menggunakan teknologi ini bentuk dari fixed resistor menjadi lebih kecil
lagi, sehingga kita dapat membuat suatu sistem yang mempunyai ukuran
sekecil mungkin. Contoh bentuk fixed resistor dengan teknologi SMT dapat
dilihat pada gambar 2. Ada beberapa macam kemasan standard yang sudah
ditentukan oleh Industri elektronik antara lain:
- 1206 ukuran = 3.0 mm x 1.5 mm, 2 terminal
- 0805 ukuran = 2.0 mm x 1.3 mm, 2 terminal
- 0603 ukuran = 1.5 mm x 0.8 mm, 2 terminal
Selain kemasan axial terdapat pula
kemasan lain yang disebut SIP (Single-In-Line). Didalam kemasan ini
terdapat lebih dari 1 resistor yang biasanya disusun pararel dan
mempunyai 1 pusat yang dinamakan common. Untuk contoh dapat dilihat pada
gambar 3.
Tipe atau jenis resistor saat ini sangat
beragam, tergantung dari pemakain untuk suatu sistem elektronika yang
akan kita rancang. Berikut ini akan dijelaskan sedikit tentang
penggunaan resistor berdasarkan tipe atau jenisnya.
- Precision Wirewound resistor
Merupakan tipe resistor
yang mempunyai tingkat keakuratan sangat tinggi sampai 0.005% dan TCR
(Temperature coeffisient of resistance) sangat rendah. Sehingga sangat
cocok digunakan untuk aplikasi DC yang membutuhkan keakuratan yang
sangat tinggi. Tetapi jangan menggunakan jenis ini untuk aplikasi rf
(radio frequency) sebab mempunyai Q resonant frequency yang rendah.
Contoh aplikasi penggunaan resistor ini adalah DC Measuring equipment,
dan reference resistor untuk voltage regulator dan decoding Network.
NIST (National Institute of Standard and
Technology) merupakan tipe resistor dengan tingkat keakuratan paling
tinggi yaitu 0.001% , TCR yang rendah dan sangat stabil dibandingkan
dengan Precision Wirewound Resistor. Komponen ini biasanya digunakan
sebagai standard di dalam verifikasi keakuratan dari suatu alat ukur
resistive.

Biasanya
resistor ini digunakan untuk aplikasi yang membutuhkan daya yang yang
sangat besar. Komponen ini dapat mengatasi daya yang besar dibandingkan
dengan resistor yang lain. Karena panas yang ditimbulkan cukup besar
biasanya resistor ini dilapisi oleh bahan seperti ceramic Tube, Ceramic
rods, anodized aluminum, fiberglass mandels, dll . Gambar disamping
merupakan contoh dari Power Wirewound resistor.

Komponen
ini selain berfungsi sebagai resistor, juga berfungsi sebagai sekering.
Resistor ini didesain sedemikian rupa sehingga bila ada arus yang
sangat besar melalui maka hambatannya menjadi takterhingga. Pada kondisi
normal suhu dari resistor ini akan panas ketika ada arus yang
melaluinya.

Ini
merupakan salah satu tipe resistor yang banyak sekali dijual dipasaran.
Biasanya untuk nilai hambatan yang besar, misalnya 1K2, 2K2, 4K7, dll
mudah mencarinya. Tetapi untuk nilai hambatan yang kecil, misalnya 2Ω,
3Ω, dll susah dicari. Resistor ini memiliki koefisien temperature dengan
batas 1000 ppm/°C terhadap nilai hambatannya, dimana nilai hambatannya
akan turun ketika suhunya naik. Selain itu resistor juga memiliki
koefisien tegangan, dimana nilai hambatan akan berubah ketika diberi
tegangan. Semakin besar tegangan maka semakin besar perubahannya.
Voltage Rating dari resistor Carbon Composition ditentukan berdasarkan
ukuran fisik, nilai, dan dayanya. Pada saat menggunakan resistor jenis
ini diharapkan agar berhati – hati didalam perancangan, karena dapat
menghasilkan noise dimana noise ini tergantung pada nilai dari resistor
dan ukurannya.

Resistor
jenis Carbon Film mempunyai karakteristik yang sama dengan resistor
carbon composition tetapi noise, voltage coeficient, temperature
coeficient nilainya lebih rendah. Carbon Film Resistor dibuat dengan
memotong batangan keramik yang panjang dan kemudian dicampur dengan
material karbon. Frekuensi respon dari resistor ini jauh lebih bagus
dibandingkan dengan wirewound dan lebih bagus lagi dibandingkan dengan
carbon composition. Dimana wirewound akan menjadi suatu induktansi
ketika frekuensinya rendah dan akan menjadi kapasitansi apabila
frekuensinya tinggi. Dan untuk carbon composition hanya menjadi
kapasitansi apabila dilalui oleh frekuensi tinggi dan frekuensi rendah.

Metal
Film resistor merupakan pilihan terbaik dari jenis resistor Carbon
composition dan carbon film . Karena resistor ini lebih akurat, tidak
mempunyai voltage coefisient, noise dan temperature coefisient yang
lebih rendah. Tetapi resistor ini tidak sebagus jenis resistor Precision
wirewound. Bahan dasar pembuat dari resistor ini adalah metal dan
keramik, bahan ini mirip seperti yang digunakan untuk membentuk carbon
film resistor.
Resistor ini mempunyai
karakteristik yang sama dengan jenis metal film. Kelebihan utama
dibandingkan dengan metal film adalah tingkat kestabilannya yang lebih
tinggi, TCR paling kecil, dan frek respon tinggi. Selain kelebihan
terdapat pula kelemahan yaitu nilai maksimum dari resistor ini lebih
kecil dari nilai resistor metal film. Resistor ini biasanya dipakai di
dalam strain gauge, nilai strain dapat diukur berdasarkan perubahan
nilai resistansinya. Ketika digunakan sebagai strain gauge, foil-nya
dipasangkan di suatu substrate fleksibel sehingga dapat dipasang
didaerah tempat pengukuran strain dilakukan.
Material yang digunakan
untuk membuat resistor ini sama dengan jenis metal film dan carbon
film. Tetapi karakteristik dayanya lebih tinggi. Power film resistor
mempunyai nilai yang lebih tinggi dan respon frekuensi yang lebih baik
dibandingkan Power wirewound resistor. Resistor ini banyak digunakan
untuk aplikasi power karena membutuhkan frekuensi respon yang baik, daya
yang tinggi dan nilai yang lebih besar daripada power wirewound
resistor. Biasanya komponen ini memiliki toleransi yang cukup lebar.
2. Variable Resistor
Untuk kelas resistor yang kedua ini
terdapat 2 tipe. Untuk tipe pertama dinamakan variable resistor dan
nilainya dapat diubah sesuai keinginan dengan mudah dan sering digunakan
untuk pengaturan volume, bass, balance, dll. Sedangkan yang kedua
adalah semi-fixed resistor. Nilai dari resistor ini biasanya hanya
diubah pada kondisi tertentu saja. Contoh

penggunaan
dari semi-fixed resistor adalah tegangan referensi yang digunakan untuk
ADC, fine tune circuit, dll. Ada beberapa model pengaturan nilai
Variable resistor, yang sering digunakan adalah dengan cara memutar.
Pengubahan nilai dengan cara memutar biasanya terbatas sampai 300
derajat putaran. Ada beberapa model variable resistor yang harus diputar
berkali – kali untuk mendapatkan semua nilai resistor. Model ini
dinamakan “Potentiometers” atau “Trimmer Potentiometers”. Pada gambar 4
disamping untuk bentuk 3 biasanya digunakan untuk volume kontrol. Bentuk
yang ke 2 merupakan semi fixed resistor dan biasanya di pasang pada PCB
(Printed Circuit Board). Sedangkan bentuk 1 juga juga trimmer
Potentiometers.

Ada
3 tipe didalam perubahan nilai dari resistor variabel, perubahan
tersebut dapat dilihat pada gambar 5. Pada saat tipe A diputar searah
jarum jam, awalnya perubahan nilai resistansi lambat tetapi ketika
putarannya mencapai setengah atau lebih nilai perubahannya menjadi
sangat cepat. Tipe ini sangat cocok dengan karakteristik telinga
manusia. Karena telinga sangat peka ketika membedakan suara dengan
volume yang lemah, tetapi tidak terlalu sensitif untuk membedakan
perubahan suara yang keras. Biasanya tipe A ini juga disebut sebagai
“Audio Taper” potensiometer. Untuk tipe B perubahan resistansinya adalah
linier dan cocok digunakan untuk Aplikasi Balance Control, resistance
value adjustment in circuit, dll. Sedangkan untuk tipe C perubahan
resistansinya kebalikan dati tipe A. Biasanya tipe ini digunakan untuk
fungsi – fungsi yang khusus. Kebanyakan untuk resistor variabel
digunakan tipeA dan tipe B.
3. CDS (Cadmium Sulfide Photocell)

Jenis
resistor ini perubahan nilainya tergantung pada banyaknya cahaya yang
mengenai dirinya. Biasanya resistor ini juga disebut LDR (Light Depend
Resistor). Banyak sekali tipe dari komponen ini tergantung pada
sensitivitas cahaya, ukuran, nilai hambatan, dll. Pada gambar 6 terdapat
contoh salah satu bentuk CDS photocell. CDS ini mempunyai diameter 8
mm, tinggi 4 mm, dengan bentuk silinder. Pada kondisi ruangan yang
terang nilai hambatannya adalah 200 ohm, sedangkan saat kondisi ruangan
gelap maka nilai hambatannya 2M ohm.
4. Termistor (Thermally Resistive Resistor)
Resistor ini nilai hambatannya berubah berdasarkan temperature dan
biasa digunakan untuk sensor suhu. Ada 3 tipe termistor antara lain :
- NTC ( Negative Temperature Coefficient Thermistor )
Pada saat suhu disekitarnya naik nilai hambatannya menurun.
- PTC ( Positive Temperature Coefficient Thermistor)
Pada saat suhu disekitarnya naik nilai hambatannya naik.
- CTR ( Critical Temperature Resistor )
Nilai hambatannya akan menurun dengan cepat ketika suhu disekitarnya naik diatas suhu yang specific point.
Dari semua penjelasan diatas dapat kita
ketahui bahwa komponen resistor banyak sekali variasi dan
penggunaannya, itu semua tergantung pada aplikasi yang akan dibuat dan
kondisi suhu tempat meletakkan rangkaian. Karena bila kita meletakkan
rangkaian tersebut pada suatu tempat dimana suhunya dapat dengan cepat
berubah, maka nilai resistansi juga akan berubah. Apabila menginginkan
suatu sistem yang stabil maka pilihlah resistor sesuai dengan
kegunaannya.
Cara baca Resistor
- Mengidentifikasi Nilai Resistor
Untuk mengetahui nilai resistansi dari
suatu resistor caranya adalah dengan membaca warna gelang dari resistor
atau membaca suatu nilai yang tertera pada badan resistor.

Metoda
ini memiliki 10 warna standard yang dapat dilihat pada gambar 7 paling
kiri. Untuk resistor dengan 4 warna gelang, 2 pertama adalah nilainya
yang ketiga adalah faktor 10
n dan yang keempat adalah
toleransinya. Misalnya gelang pertama adalah merah berarti nilainya = 2,
gelang kedua ungu sehingga nilainya = 7, gelang ketiga oranye maka
faktor 10
n = 103 = 1000 dan gelang keempat adalah emas
berarti toleransinya = 5%, maka nilai resistansinya adalah 27000Ω = 27KΩ
5%. Untuk perhitungan nilai resistor dengan jumlah gelang 5 dan 6
hampir sama dengan menghitung nilai resistor pada 4 gelang. Bedanya
hanya pada faktor 10n, dimana untuk jumlah gelang 5 dan 6 terletak pada
gelang nomor 4 dan 5. Untuk gelang ke 6 merupakan nilai koefisien suhu
dari resistor. Suhu tersebut diukur dalam PPM/C Part Per Milion per
degree Centigrade.

Semakin
kecil bentuk resistor sangatlah sulit untuk mamasukkan semua gelang
pada badan resistor Oleh karena itu dibuatlah sebuah cara agar nilai
resistor tersebut dapat diketahui, cara ini disebut sebagai
“Alpha-numeric Code Identification “. Pada metoda ini nilai dari
resistor dituliskan. ke badan resistor dengan jumlah 3 angka seperti
yang terlihat pada gambar disamping. Perhitungan untuk nilai resistansi
sama dengan perhitungan dengan memakai gelang. Hanya saja faktor 10
n
terletak pada karakter tiga sedangkan yang keempat merupakan
toleransinya. Contoh pada gambar adalah komponen resistor dengan kemasan
SIL (Single In Line) Network tertulis nilai 473K. Karena bilangan
ketiganya tertulis 3 maka faktor 10
n = 103 = 1000. jadi nilai
resistansinya adalah 47000 Ω. Karena karakter ke 4 merupakan huruf K
maka toleransinya = ±10%. Macam macam huruf yang menyatakan toleransi
adalah sebagai berikut : M = ±20%, K = ±10%, J = ±5%, G = ±2%, F = ±1%.
Electronics Industries Association (EIA),
dan beberapa sumber yang lain telah menetapkan suatu nilai standard
dari resistor yang biasanya diberi kode E. Ada 2 kode yang nilai
resistansinya banyak dijumpai dipasaran yaitu : E12 dan E24. Batas
daerah nilai untuk kode E12 ada 12 yaitu: 1.0, 1.2, 1.5, 1.8, 2.2, 2.7,
3.3, 3.9, 4.7, 5.6, 6.8 dan 8.2. Kode ini biasanya digunakan pada
resistor dengan menggunakan material carbon film standar. Nilai maksimum
yang ada hanya sampai 10 MΩ. Tabel untk nilanya dapat dilihat dibawah :
Untuk kode E24 mempunyai 24 nilai yaitu:
1.0, 1.1, 1.2, 1.3, 1.5, 1.6, 1.8, 2.0, 2.2, 2.4, 2.7, 3.0, 3.3, 3.6,
3.9, 4.3, 4.7, 5.1, 5.6, 6.2, 6.8, 7.5, 8.2 dan 9.1. Biasanya kode ini
dipakai oleh resistor yang menggunakan material metal film dan mempunyai
nilai maksimum sampai 1MΩ. Dibawah terdapat tabel nilai resistor yang
menggunakan kode E24.
No comments:
Post a Comment